ITB: Tak Perlu Larang Plastik, Fokus Daur Ulang

ITB: Tak Perlu Larang Plastik, Fokus Daur Ulang

ITB Tak Perlu Larang Plastik, Fokus Daur Ulang

Sebanyak 100 persen limbah atau sampah plastik bisa didaur ulang

yang menjadi barang yang memiliki nilai tambah melalui pengelolaan ekonomi sirkular. Sampah plastik akan berbahaya bagi lingkungan dan mata rantai sampah apabila tidak dikelola dengan baik.

Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmad Zainal mengatakan penggunaan jenis plastik botol atau PET (Polietilena Tereftalat) di Indonesia sebanyak 350 ribu ton pada tahun 2018. Sedangkan yang bisa didaur ulang hanya 216,047 ton.

Atas fakta itu, Akhmad mengatakan pemerintah tidak perlu gembar-gembor

menerapkan aturan melarang penggunaan plastik, namun melakukan tata kelola sampah plastik secara sirkular ekonomi.

“Jadi bukan dengan melarang plastik dan tidak sekadar kumpulkan sampah di TPS lalu buang ke TPA. Tapi pemerintah bisa mengolah,” kata Akhmad dalam diskusi di bilangan Kuningan, Jakarta, Selasa (19/11).

Lihat juga:Ada 3,7 Juta Pemulung, KLHK Diminta Tak Larang Plastik

 

Lebih lanjut, Akhmad mengatakan botol plastik berbahan PET bisa didaur ulang hingga 50 kali sehingga bisa menghemat bahan baku produksi.

Akhmad mengatakan proses kumpul-angkut-buang sampah adalah cara kuno yang justru menghabiskan biaya (cost center). Oleh karena itu, ia berharap masyarakat Indonesia bisa merubah paradigma untuk memilah sampah agar bisa menjadi aset.

“Itu cara kuno. Paradigma baru adalah pilah, kumpulkan, proses jadi barang bernilai tambah, lalu jual. Ini namanya profit center,” kata dia.

 

Sumber :

https://namabayi.co.id/antivirus-apk/