Moody : Indosat Kekurangan Dana Pembangunan Jaringan 4G

Moody : Indosat Kekurangan Dana Pembangunan Jaringan 4G

Moody Indosat Kekurangan Dana Pembangunan Jaringan 4G

Kinerja keuangan Indosat Ooredoo melemah secara signifikan pada 2018

karena menderita penurunan tajam dalam pelanggan dan pendapatan. Perusahaan juga dipacu meningkatkan belanja modal demi memperluas cakupan 4G, setelah bertahun-tahun kekurangan belanja investasi.

Lembaga keuangan internasional Moody, melaporkan bahwa pendapatan operator yang kini dimiliki Ooredoo Qatar itu, sepanjang 2018 turun sebesar 23% tahun-ke-tahun (YoY) menjadi Rp 23,1 triliun (US$ 1,64 miliar).

Hal itu terutama disebabkan oleh anjloknya pendapatan hingga 26%

dalam bisnis selular, karena terus menurunnya kontribusi dari suara dan SMS.

Menyusul kebijakan registrasi SIM prabayar yang diwajibkan oleh pemerintah, basis pelanggan Indosat Ooredoo turun 47% menjadi 58 juta pada akhir 2018. Padahal tahun sebelumnya, perusahaan mengklaim memiliki 110 juta koneksi selular. Indikator kesehatan lain, yakni ARPU juga turun sebesar 8% menjadi Rp 18.700 pada periode yang sama.

Meski masih menjadi operator terbesar kedua di Indonesia, pangsa pasar Indosat Ooredoo anjlok dari 25% pada akhir2017 menjadi 16,5%.

Data dari GSMA Intelligence menunjukkan, XL Axiata kini tergeser ke posisi tiga

. Operator yang dimiliki Axiata Bhd Malaysia itu, memiliki 55 juta pelanggan, dengan 15,6% pangsa pasar pada akhir 2018.

Setelah perubahan kepemimpinan pada Oktober 2018, dengan Chris Kanter menggantikan Joy Wahjudi sebagai CEO, Indosat secara signifikan meningkatkan anggaran belanja modal untuk periode 2019-2021 menjadi Rp 30 triliun. Capex sebesar itu digunakan untuk memperluas cakupan 4G di luar pulau Jawa.

Nidhi Dhruv, analis senior Moody, mengatakan bahwa alokasi capex yang dipercepat adalah kunci strategi Indosat agar tetap kompetitif.

Namun alokasi Capex yang signfikan membuat Moody menurunkan prospek operator dari stabil menjadi negatif.

 

Baca Juga :