Prestasi Pendidikan Cahaya Anak Negeri

Prestasi Pendidikan Cahaya Anak Negeri

 

Prestasi Pendidikan Cahaya Anak Negeri

Anak jalanan masih ramai dibicarakan karena masalah mereka yang selalu kompleks.

Menurut PBB anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalan untuk bekerja, bermain dan beraktivitas lain.   Ketiga, sedangkan menurut Departemen Sosial RI adalah anak yang bekerja atau bertahan hidup dijalan, menjadi korban kekerasan, eksploitasi ekonomi, eksploitasi seksual, diskriminasi, serta memiliki permasalahan sosial lainnya.

Biasanya faktor yang membedakan anak bekerja di jalan dan anak hidup dijalan dilihat dari  kontak dengan keluarga. Kalaupun masih, biasanya dalam jangka waktu tertentu, misalnya sebulan sekali, 3 bulan sekali, atau dalam setahun sekali. Selebihnya, waktu mereka dihabiskan di jalan. Bahkan dengan kekerasan untuk mempertahankan diri mereka.

Melihat fenomena tersebut membuat, pendiri Yayasan Cahaya Anak Negeri,

Nadiah membuka hati dan matanya untuk anak jalanan. Menurutnya,  mereka yang tumbuh berkembang dengan latar kehidupan jalanan serta akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif serta kurangnya pendidikan.

“Melihat kemampuan mereka dalam kekerasan yang bersifat negatif sih sebenernya yang membuka mata kita. Terlintas dipikiran pada saat itu bagaimana kalau tenaga mereka punya itu buat kekerasan dijadikan sebagai skill mereka.  Akhirnya deh para anak jalanan yang telah mengikuti CAN kita bangun minatnya.  Misal mereka yang suka tawuran Karena memiliki tenaga banyak, energinya kita alihkan ke lapangan pertandingan. Dari situ berlanjut ke lari prestasi. Selain itu, yang suaranya bagus diujicobakan lomba adzan, lalu main bola di tempat sampah jadi di lapangan hijau sesungguhnya,” ujarnya.

Menurutnya, anak jalanan sangat ekspresif. Dengan diajak merefleksikan

kehidupan sehari-hari mereka yang penuh kebiasaan ngelem, pencekokan minuman, usaha pemerkosaan, sampai kematian yang di penghujungnya mengharap diberikan kesempatan, mereka jadi lebih kuat tekadnya untuk merasakan perubahan nyata.

“Masalah anak jalanan merupakan masalah yang kompleks, artinya kita tidak bisa menghilangkan anak jalanan. Tapi paling tidak dapat mengurangi jumlah anak dari  tahun ke tahun dan memberikan alternatif pemecahan masalah ini. Yang terpenting adalah perbaiki psikis mereka terlebih dahulu.  Baru di gali skill mereka,” lanjutnya.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/